Pages

Kamis, 08 Mei 2014

Hukum Mujahidin Penggal Kepala Orang Kafir & Murtad Dalam Perang


 Hukum Mujahidin Penggal Kepala Orang Kafir & Murtad Dalam Perang













Hukum Mujahidin Penggal Kepala Orang Kafir & Murtad Dalam Perang

بسم الله الرحمن الرحيم

Hukum Mujahidin Memenggal Kepala Orang Kafir & Murtad

Dalam Perang

Oleh Thalibul Ilmi al-Akh Abu Asybal Usamah



Segala puji bagi Allah semata, Yang telah menolong hamba-Nya, menguatkan tentara-Nya dan menghancurkan pasukan aliansi kafir. Shalawat dan salam senantiasa membasahi lidah kita teruntuk baginda Rasulullah, keluarga dan para sahabatnya.

Akhir-akhir ini kita melihat bahwa mujahidin Daulah Islam Irak dan Syam melakukan penyembelihan kepada tentara Irak, shahawat Irak dan tentara rezim tiran Nushairiyah. Dahulu pada waktu Daulah Islam Irak  juga sering muncul dalam rilisan video mujahidin menyembelih para tentara.

Apakah ini ada dasarnya dalam Islam? Mungkin sebagian orang menganggap ini adalah sesuatu yang menyelisihi etika dan adab. Namun kami akan mencoba menjelaskan hal ini sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah serta contoh dari salafushshalih.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

فإذا لقيتم الذين كفروا فضرب الرقاب

“Jika kalian bertemu orang-orang kafir (dalam peperangan) maka pancunglah leher-leher mereka” [QS Muhammad:4]

Ayat ini jelas menunjukkan perintah kepada orang mukmin dalam memperlakukan musuhnya ketika mereka berperang atau tidak ada perjanjian di antara mereka atau mereka mengobarkan permusuhan dengan mencela agama Islam.

Dan hal ini sesuai dengan tujuan disyari’atkan i’dad (persiapan militer untuk jihad) yaitu membuat gentar musuh (QS al-Anfaal:60) agar mereka berhenti dari kezaliman mereka. Meski demikian, cara pembunuhan seperti ini adalah sesuai adab dan termasuk ringan bagi yang terbunuh karena dia tidak tersiksa dengan cara termasuk di banding dia harus terluka dengan tembakan dan memerlukan tembakan lagi untuk memastikan dia sudah tidak bernyawa.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam

إن الله كتب الإحسان على كل شيء فإذا قتلتم فأحسنوا القتلة

“Sesungguhnya Allah memerintahkan berbuat baik dalam segala sesuatu. Jika kalian membunuh (Baik itu membunuh musuh (orang kafir), melakukan qishosh atau memerangi kau murtad), maka baguskanlah cara membunuhnya” [HR Muslim]

 Siapa yang Pertama kali memenggal musuh?

Memenggal kepala pertama kali dilakukan oleh sahabat. Beliau adalah Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu. Ibnu Mas’ud memenggal musuh Allah dan gembong kekufuran, Abu Jahl.

Kisah pemenggalan tersebut kita bisa dapati di Kitab Shahihul Bukhori Kitab al-Maghazi Bab Qatli Abi Jahl Karya Imam Bukhori dan Kitab al-Bidayah wan Nihayah bab Maqtal Abi Jahl la’anahullah karya Imam Ibnu Katsir.

Peristiwa itu terjadi dalam Perang Badr. Sebelumnya kematiannya melalui tangan Ibnu Mas’ud, Abu Jahl terluka oleh tombak Mua’dz bin Amru bin Jamuh. Mu’adz ibnul Jamuh pun terluka, di mana tangannya terputus karena sabetan pedang anak Abu Jahl, Ikrimah.

 Mu’adz bin Afra’ melawati Abu Jahl dan menambah luka Abu Jahl dengan tombaknya. Setelah pertempuran selesai, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ingin mengkonfirmasi kalau gembong kekufuran, Abu Jahl, telah tewas. Maka Ibnu Mas’ud pun mengajukan diri untuk bertanggungjawab untuk memastikan kematian Abu Jahl.

Ibnu Mas’ud pun pergi ke medan pertempuran. Ia menemukan Abu jahl tergelatak di atas pasir dengan kondisi terluka parah. Ia pun tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Ibnu Mas’ud [un meletakkan kakinya di leher Abu Jahl.

Ibnu Mas’ud pun bekata kepada Abu Jahl: “Tidakkah Allah menghinakanmu?”

Abu Jahl: “Dengan apa dia menghinakanku?”

Ibnu Mas’ud: “Bukankah dulu engkau mencoba membunuh seorang yang kini menginjakkan kakinya di atas lehermu. Maka kemenangan siapa hari ini?”

Abu Jahl: “Sungguh engkau telah mencapai pada posisi yang sulit dicapai oleh orang-orang wahai penggembala kambing?”

Ibnu Mas’ud pun menyembelih Abu Jahl dan memenggal kepalanya lalu membawahnya kehadapan Rasulullah. Setelah membawa kepala Abu Jahl di hadapan Nabi, Ibnu Mas’ud berkata: “Wahai Rasulullah ini adalah kepala musuh Allah”. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam meninggikan suaranya, “Allahu Akbar, segala puji bagi Allah Yang telah menepati janjinya, Yang telah menolong hamba-Nya, menguatkan tentara-Nya dan menghancurkan pasukan aliansi kafir”.

Maka perlakuan tersebut merupakan syari’at Allah untuk menggentarkan musuh-musuh-Nya yang mencoba menghancurkan Islam dan muslimin agar mereka berhenti dari kezaliman mereka.

Wallahu Ta’ala A’lam